Home >> Dakwah Islam >> Wahyu Lailatul Qodar

Wahyu Lailatul Qodar

malam-lailatul-qodarSebagaimana telah diketahui bahwa puasa itu adalah ibadah yang tersembunyi di dalam jiwa yang dilakukan guna menahan hawa nafsu dari segala keinginan. Pekerjaan menahan itu tidak diketahui seorang pun, selain Alloh Yang Maha Perkasa. Oleh karena itu, ibadah puasa sangat besar artinya serta mengandung rahasia dan hikmah yang tidak sedikit, dan berguna bagi pelakunya dan masyarakat umum.

Setidaknya ada ranah hikmah yang mampu disentuh oleh ibadah puasa kita. Apalagi di dalam bulan ramadlan terdapat Lailatul Qodar, yaitu malam yang tak ada bandingannya. Lailatul Qodar adalah malam yang sangat utama dan mengandung waktu yang baik. Kalau ditakdirkan Alloh, ibadah yang bertepatan dengan Lailatul Qodar itu dilipatkgandakan pahalanya oleh Alloh, sehingga ibadah pada malam itu lebih baik—lebih besar pahalanya—daripada ibadah seribu bulan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Qadr:1-5 yang berbunyi, “Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah Lailatul Qadar itu ? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turunlah melaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala urusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar”.

Al Qadr artinya asy-Syarfu wat-Ta’dhim (mulia dan agung, red) dan juga memiliki arti at-Taqdir wal Qadla’ (ketetapan dan keputusan, red). Disebut demikian karena malam itu merupakan malam yang mulia dan agung yang pada malam tersebut Allah menetapkan berbagai perkara penuh hikmah yang terjadi sepanjang tahun. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ad-Duhon:1-5 yang berbunyi, “Haa Miim. Demi Kitab (Al-Qur’an) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami, sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rosul-rosul”.

Lailatul Qadar adalah malam dibukanya seluruh pintu kebaikan, didekatkannya para kekasih Allah, didengarkannya permohonan dan dijawabnya doa. Amal kebaikan pada malam itu ditulis dengan pahala sebesar besarnya, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Maka hendaknya kita berusaha untuk menggapainya.

Ada pun keutamaan Lailatul Qadar berdasarkan hadits Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasalam adalah seperti yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim dalam Kitabu Fadli Lailatil Qadr, dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasalam bersabda, “Barang siapa yang beribadah pada lailatul qadr karena iman dan mengharap pahala (ihtisab/perhitungan) maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Yang dimaksud dengan iman di sini adalah tashdiiqoon biwa’dillah bits-tsawaabi ‘alaihi, yakni percaya kepada Allah dan kepada apa yang disediakan Allah berupa pahala bagi siapa saja yang menghidupkan malam itu, sedang ihtisab memiliki arti tholibaan lilajri laa liqosdi aakhoro min ar-riya’ au nahwahu, yaitu mencari dan mengharapkan pahala dan balasan, bukan atas dasar maksud yang lain atau karena riya’ (pamer amalan, red) atau semisalnya itu. Keutamaan ini akan didapatkan oleh siapa saja, baik yang mengetahui bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar atau yang tidak mengetahuinya, karena Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wasalam tidak mensyaratkan bahwa yang mendapatkan pahala harus orang yang tahu Lailatul Qadar ini. Dan begitu banyak keutamaan-keutamaan lainnya.

Lailatul Qadar ada pada sepuluh akhir Ramadhan, berdasarkan sabda Nabi SAW, “Carilah dan persungguhlah Lailatul Qadar di sepuluh malam akhir pada bulan Ramadlan”. (HR Bukhori dan Muslim) Dan kemungkinan terjadi pada malam-malam yang ganjil lebih besar daripada malam-malam yang genap, berdasarkan sabda Nabi Shalallaahu ‘alaihi wasalam,”Carilah lailatul qadar itu pada malam yang ganjil pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan”. (HR.Bukhori)

Sesungguhnya Rosulullah sendiri akan memberitahukannya tetapi beliau dilupakan oleh Alloh, pada waktu itu beliau bersabda, “Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang Lailatul Qadar, tapi ada dua orang berdebat hingga tidak bisa lagi diketahui kapannya; mungkin ini lebih baik bagi kalian, carilah di malam 29. 27. 25 (dan dalam riwayat lain : tujuh, sembilan dan lima)”. (Hadits Riwayat Bukhori Juz 4 Shohifah 232) Karena perdebatan kedua orang sahabat tersebut maka Rosulullah tidak jadi memberitahukan kapan Lailatul Qodar.

Allah Subhannahu wa Ta’ala merahasiakan kapan terjadinya Lailatul Qadar kepada hamba-hamba-Nya tidak lain adalah sebagai rahmat bagi mereka agar mereka banyak-banyak mengerjakan amal kebaikan dalam rangka mencari malam itu. Yaitu dengan banyak melakukan shalat, dzikir, do’a dan lain-lain sehingga terus bertambah kedekatan nya kepada Allah, dan bertambah pula pahala mereka. Allah juga merahasiakan itu sebagai ujian agar diketahui siapakah yang sungguh- sungguh di dalam mencarinya dan siapa yang bermalas-malasan dan meremehkannya. Karena orang yang berkeinginan mendapatkan sesuatu maka dia pasti akan bersungguh- sungguh untuk memperolehnya, tanpa mempedulikan rasa letih dalam rangka menempuh jalan untuk mencapainya.

Kalau sudah diketahui sebelumnya, bisa jadi banyak yang hanya beribadah pada malam tersebut saja. Jangankan kalau kita tahu kapankah ‘malam qodar’ itu, sedangkan kita baru mengetahui siapakah Imam Tarawih malam Ramadlan saja sudah mempengaruhi fluktuasi amal ibadah kita. Kalau imamnya suka membaca bacaan surat yang panjang, terkadang kita menunggu lama untuk berdiri mengikuti rekaat berikutnya, atau bahkan—dengan serta merta—meninggalkan jamaah sholat dan memutuskan sholat tarawih sendiri di rumah. Kalau imam sholat suka membaca bacaan surat yang relatif pendek dan ringkas, maka kita berburu di shaf terdepan.

Apakah kita akan meniru amalan umat Islam secara umum yang ada di dalam masyarakat kita. Pada awal Ramadlan, orang islam ‘tumplek bleg’ menghadiri majelis ta’lim, tarawih dan ibadah lain yang berkaitan dengan puasa. Bahkan, kita sering melihat halaman-halaman masjid yang semula kosong dan untuk lahar parkir, harus didirikan tenda-tenda untuk menampung umat Islam yang akan beribadah. Hebatnya lagi, terkadang mereka rela untuk menggelar koran untuk alas sujud pada waktu melaksanakan sholat. Namun, ketika hari berganti hari, minggu berganti minggu seiring berakhirnya Ramadhan, shaf-shaf sholat itu mulai menipis dan akhirnya hanya tertinggal segelintir orang saja yang berada di dalam masjid untuk beribadah. Umat Islam yang lain berpindah entah kemana dalam melaksanakan ibadah dalam bulan Ramadlan. Apakah kita akan seperti itu?

Apakah kita juga tidak malu, ketika keluarga Nabi—bahkan Nabi sendiri—yang telah dijamin kebaikannya dan kesemangatannya dalam beribadah, mereka tetap konsisten dan semangat dalam melaksanakan i’tikaf untuk menggapai Lailatul Qodar. Kalau para sahabat menginginkan buktinya, coba tengok dan pahami sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Aisyah yang berbunyi, “Aisyah berkata: Istri Nabi yang mengalami penyakit istiadloh pun melaksanakan i’tikaf bersama dengan Nabi. Terkadang kami atau dia meletakkan wadah untuk menampuh darah yang berwarna merah kekuningan itu ketika istri Nabi tersebut sedang sholat”. Sebuah pemandangan yang jarang—bahkan hampir tidak kita temui—pada zaman sekarang ini. Maasya Alloh!!

Ada baiknya kita semua meniru apa yang dicontohkan Nabi. Sebuah hadits dari Aisyah menyebutkan, “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya—menjauhi wanita (yaitu istri-istrinya) karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencarinya—menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya”. (Hadits Riwayat Bukhori Juz 4 Shohifah 233 dan Muslim Roqmul Hadits 1174)

Hebatnya, Lailatul Qodar diturunkan pada fase terakhir dalam Ramadlan. Seperti yang kita ketahui bahwa Ramadlan terbagi menjadi tiga fase selaras dengan sabda Nabi dalam Hadits Tirmidzi dan Ibnu Huzaimah yang berbunyi, “Awal Ramadlan adalah Rahmat, tengahnya adalah Maghfirah, dan akhirnya adalah Itqu Minannar”.

Fase terakhir ini, menurut saya, adalah fase terberat dalam beribadah dalam bulan Ramadlan. Bagaimana tidak??!! Di saat kondisi fisik dan stamina telah terkuras, di saat lain kita harus mengepolkan amal dalam mencari Wahyu Lailatul Qodar. Saya—dalam memberikan tausiyah atau menutup rangkaian ibadah i’tikaf ba’da sholat subuh—sering menganalogikan proses dan fase ini seperti seorang ksatria dalam dunia pewayangan yang sedang mencari wahyu, entah itu wahyu Cakraningrat, Topeng Wojo, Katentreman dan lain-lain. Pada fase awal mereka bertapa mereka bertemu dengan rasa lapar dan dahaga, fase berikutnya mereka harus berperang dengan raksasa dan berbagai makhluk halus yang lain. Belum lagi pada fase selanjutnya selalu digoda oleh bidadari yang membangkitkan syahwatnya. Kalau ksatria tersebut lulus dari godaan, cobaan dan ujian tersebut, maka wahyu itu akan digenggam pada akhir perjalanannya.

Demikian pula kita, dalam mencari Lailatul Qodar, pada fase awal ramadlan kita bertemu dengan rasa lapar dan dahaga, fase berikutnya kita dihadapkan kelelahan fisik dan menurunnya stamina, ditambah dengan para jamaah lain yang sudah turun semangatnya dan terkadang memberi pengaruh signifikan terhadap semangat kita. Yang lebih hebat lagi, ibadah i’tikaf—yakni berdiam diri di dalam masjid sambil beribadah siang dan malam—yang seharusnya dapat menyempurnakan keutamaan ibadah dalam bulan ramadlan ini, terutama mulai dari tanggal 20 ramadlan sampai dengan penghabisan bulan ramadlan, ternyata mulai banyak terjadi pergeseran pengertian dan pelaksanaannya.

Istilah i’tikaf berubah menjadi i’tilem atau i’tidur (i’tikaf dengan tidur, red). Atau bagi yang tidak kuat menahan godaan televisi dengan program tayangnya yang sayang untuk ditinggalkan dan dilewatkan, muncullah istilah i’tivi (i’tikaf di depan televisi, red). Bahkan, bagi yang sibuk mempersiapkan lebaran dan tidak mampu menahan diri mengikuti perang diskon harga di berbagai pusat perbelanjaan yang memang menawarkan potongan harga untuk lebaran, bergeser menjadi istilah i’timall (i’tikaf di mall) atau i’ticafe atau i’tikaf di cafe. Akan banyak bermunculan istilah semacam itu sebagai bentuk lawan abadi bagi orang beriman dalam meraih Wahyu Lailatul Qodar.

Pesan aa_im: Jagalah Stamina dan Semangat kita hingga akhir ramadlan, sehingga cita-cita luhur kita dapat tercapai. Bagaikan kendaraan yang kita gunakan dalam perjalanan menuju tujuan yang kita kehendaki, tentunya membutuhkan berbagai persiapan, alat-alat kelengkapan, sarana dan prasarana, bekal dalam perjalanan, bahkan kita tidak boleh melupakan untuk mengisi bahan bakar dan pelumas serta persiapan yang lainnya. Kita juga, dalam menempuh i’tikaf dalam meraih Wahyu Lailatul Qodar, tentunya membutuhkan berbagai persiapan, alat-alat kelengkapan, sarana dan prasarana, bekal dalam i’tikaf, bahkan kita tidak boleh melupakan untuk mengisi bahan bakar dan pelumas bagi tubuh kita semisal ta’jil, makanan dan minuman suplemen energi serta persiapan yang lainnya.

Kalau kita ditakdirkan oleh Alloh bertemu dengan Lailatul Qodar, maka perbanyaklah membaca do’a, memohon keselamatan di dunia dan di akhirat. Do’a yang utama, seperti yang telah diriwayatkan dari Aisyah dan diajarkan oleh Nabi, “Aisyah berkata : “Aku bertanya, “Ya Rasulullah ! Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan ?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah :”Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul afwa fa’fu’annii”(Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku)”. (Hadits Riwayat Tirmidzi Roqmul Hadits 3760 dan Ibnu Majah Roqmul Hadits 3850)

Semoga kita mampu menggapai dan meraih Wahyu Lailatul Qodar tahun ini. Yang kesemuanya itu akan terefleksi dalam ucapan dan amalan kita pasca ramadlan yang akan semakin meningkat dan fastabiqul khairat dalam semua bentuk ibadah. Semoga.

Demikian Percikan Permenungan yang bertajuk Hikmah Ramadlan (#3) kali ini. Muga2 Alloh paring aman, slamet, lancar, dan barokah. Amiin.

Alhamdulillahi Jazaa Kumullohu Khoiron.

Wassalam.

AA_Im (Sufi Berjalan Di Atas Teknologi)

Other articles you might like;

Check Also

hukum valentine day menurut islam

Hukum Valentine Days Menurut Islam

Saya seorang muslim apakah pantas ikut merayakan hari Valentine Days ?? Berikut ini beberapa penjelasan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *