Home >> Opini >> Profesi Guru, Budaya Ngéngér, dan Gerakan Menghormati Guru
Ilustrasi: Presiden Joko Widodo saat menandatangani wall of fame Gerakan Menghormati Guru di hari kedua Munas VIII LDII, 9 Oktober 2016.

Profesi Guru, Budaya Ngéngér, dan Gerakan Menghormati Guru

Guru adalah sosok yang mulia sekaligus teladan dan panutan murid. Konon, pada masa yang lalu, kata-kata dan arahan guru ibarat “hukum” yang harus ditaati oleh para muridnya. Bukan karena takut ataupun terpaksa. Lebih karena digerakkan rasa takzim dan hormat pada sosok yang diberi gelar “pahlawan tanpa tanda jasa”.

Bagi siswa, mendapat pelajaran dari seorang guru adalah suatu keistimewaan. Lebih-lebih jika menerima kepercayaan untuk melakukan sesuatu sesuai arahan guru. Itu merupakan kehormatan. Hal serupa juga berlaku sebaliknya. Bagi guru, mengajar dan mendidik adalah panggilan jiwa. Dapat memberikan secuil imu yang dapat dimanfaatkan oleh muridnya dalah kebanggaan.

Sahabat Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa beliau adalah budak dari orang yang pernah mengajarkan ilmu kepadanya, walaupun hanya satu ayat. Pernyataan ini menunjukkan begitu besarnya rasa hormat dan rasa “hutang budi” seorang Ali Bin Abi Tholib pada gurunya. Ali bahkan rela menjadi budak, suatu profesi yang sangat hina, karena begitu besar rasa syukurnya pada sang guru. Banyak pula hadist-hadist dan ayat Alquran yang menjelaskan betapa luar biasanya profesi guru. Bahkan, dikatakan sebaik-baiknya seseorang adalah orang yang mau mengajar Alquran (baca : guru), dan mau belajar Alquran (baca : murid).

Budaya Ngenger

Mengingat profesi guru yang dipandang mulia dan penting dalam mencetak calon orang sukses, dalam budaya Jawa mengenal istilah ngéngér, yang secara sederhana berarti upaya seseorang ingin berguru kepada seorang guru yang diyakininya akan membawanya mencapai segala keberhasilan hidupnya. Seseorang yang ingin berhasil, seringkali ngéngér pada orang yang lebih pintar, lebih baik, lebih sukses, atau lebih mulia.

Ngéngér ini tidak sekedar “minta diajari” oleh gurunya. Lebih dari itu. Ngéngér berarti mengabdi dengan sepenuh hati. Orang yang ngéngér bahkan tinggal di rumah sang guru, untuk belajar, dari semua segi kehidupan. Tak jarang, orang yang ngenger mendapatkan perlakuan selayaknya, maaf, pembantu. Orang yang akan ngéngér sudah siap dengan kemungkinan itu. Bagi mereka, itu merupakan bentuk pembelajaran. Segala perlakuan tidak nyaman, pekerjaan yang merepotkan, semua dijalankan tanpa mengeluh. Mereka yakin, tersimpan hikmah yang besar di balik itu.

Mengapa sang guru melakukan hal itu? Bukan tanpa alasan, apalagi hanya berniat merendahkan. Guru melakukan itu untuk mendidik dan membina mental orang yang ngéngér, agar memiliki kualitas cukup menjadi orang yang lebih baik. Disinilah letak pembelajaran, dimana sang guru tak hanya mengajar, namun mendidik. Ketika orang yang ngéngér belajar dari semua aspek kehidupan sang guru, otomatis sang guru juga perlu memantaskan diri untuk menjadi panutan yang baik. Guru pun akhirnya menampilkan sikap disiplin, kerja keras, tanggung jawab, sopan santun, dan nilai-nilai luhur lainnya dalam kesehariannya.

Banyak contoh kisah terkenal tentang ngéngér ini. Pada zaman Rosulullah SAW sudah sering terjadi. Sebut saja seorang sahabat bernama Abu Huroiroh, yang ngéngér pada Nabi. Hasilnya bisa kita lihat dari betapa banyak hadist yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh. Dalam kisah pewayangan, kita juga sering mendengar kisah terkenal tentang ksatria bernama Sumantri, yang rela ngéngér pada Prabu Arjuna Sasrabahu, yang merupakan titisan dewata. Konon, Sumantri menjadi salah satu ksatria paling sakti dalam sejarah pewayangan.

Tokoh-tokoh Indonesia pun juga pernah ngéngér dalam perjalanan hidupnya. Misalnya, tokoh Damarwulan, yang menjalani laku ngenger kepada Patih Majapahit. Atau Jaka Tingkir yang ngéngér kepada Sultan Trenggana. Bahkan, tokoh-tokoh kekinian juga masih menerapkan budaya ngéngér ini. Sebut saja mantan presiden RI yang kedua, Soeharto, hingga Sultan Hamengkubuwono IX, yang sama-sama pernah ngéngér semasa muda. Intinya adalah, orang yang ngéngér (murid) percaya penuh dan menghormati gurunya, sementara sang guru juga mendidik dengan sepenuh hati. Hubungan yang luar biasa.

Lunturnya Takzim

Kini, kita sudah jarang mendengar kisah hubungan guru dan murid seperti itu. Media pun makin jarang mengulasnya. Yang ada justru sebaliknya. Sering kita dengar keluhan, bahkan tuntutan, pada guru yang, karena alasan “mendidik”, menghukum muridnya dengan perlakuan yang dianggap tidak pantas. Masih segar dalam ingatan, kisah seorang guru di Sidoarjo yang dituntut karena memukul muridnya yang dianggap melewati batas atas nama “mendidik”. Tidak hanya si murid, orang tuanya pun tidak terima, yang akhirnya berujung tuntutan hukum. Kisah ini mungkin hanya sebagian kecil dari banyak kisah-kisah lain yang serupa. Betapa hukuman dari guru kini dianggap sudah melebihi batas, keluar dari “standar”, dan melanggar hak asasi manusia.

Tentu saja, jika “standar” tersebut mengacu pada cara-cara zaman dulu, maka akan muncul lebih banyak tuntutan, mengingat “hukuman” yang diberikan dulu tidak “hanya” dipukul, tapi lebih dari itu. Orang yang ngéngér (murid) bahkan seringkali diminta untuk melakukan hal-hal “hina”, seperti merawat rumah, menguras WC, membersihkan kandang, dan lain-lain. Bayangkan saja jika ada seorang guru yang menerapkan hal tersebut di era kekinian. Mungkin akan mendapat tuntutan yang jauh lebih banyak. Lalu, apa ini berarti sudah mulai lunturnya takzim murid (dan keluarganya) pada guru? Apa ini tanda-tanda bahwa siswa jaman sekarang sudah lupa bahwa guru adalah sosok yang demikian mulia? Belum tentu.

Hukum Sebab Akibat

Dalam ilmu pengetahuan modern, kita mengenal hukum sebab akibat. Ada sebab untuk tiap akibat, dan tiap akibat pasti ada sebabnya. Begitu pula dengan fenomena lunturnya rasa hormat terhadap guru. Pasti ada sebabnya. Baik dari faktor sang guru, maupun si murid. Tidak adil jika kita hanya melihat dari satu sisi saja. Bisa jadi guru kurang baik dalam mendidik. Mungkin pula guru tak lagi menjadi teladan yang baik. Niscaya juga keinginan mendidik bukan lagi hal yang paling mendorong seseorang untuk menjadi guru, sehingga mendidik dengan setengah hati.

Bisa juga yang lebih berperan adalah faktor murid. Misalkan akibat salah pergaulan, pengaruh budaya luar, atau justru pengaruh media (sosial), yang menyebabkan lunturnya rasa hormat pada guru. Lunturnya rasa takzim yang berujung dengan timbulnya rasa meremehkan dan merasa benar sendiri. Atau mungkin juga kedua faktor tersebut memainkan perannya masing-masing. Apapun itu, perlu dilakukan pembenahan komprehensif terutama dalam sistem pendidikan maupun pembinaan dalam keluarga.

Ayo Menghormati Guru

Pembenahan perlu diawali dari diri sendiri, baik sebagai guru maupun murid. Guru bisa melakukan introspeksi diri. Guru bisa bertanya pada dirinya, Sudahkah dirinya mencerminkan sebagai guru yang ideal? Masih adakah tindakan yang belum mencerminkan teladan baik? Guru pun perlu memantaskan diri menjadi sosok ideal yang didambakan dan dihormati semua orang, khususnya murid, sebagaimana sosok-sosok guru di tempat ngéngér dahulu.

Guru masa kini dituntut bisa fleksibel dan peka zaman serta mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada. Guru diharakan mampu mendidik dan membina murid dengan baik. Selain itu juga mampu “menghukum” murid dengan pantas jika memang diperlukan (tanpa harus melanggar aturan hukum, norma sosial, HAM, dan sebagainya). Saya yakin, para guru zaman sekarang sangat mampu mengkreasi seni mendidik yang menarik, menyenangkan, namun juga tegas dan disiplin.

Di sisi lain, murid juga perlu kembali pada khittohnya. Murid pun butuh introspeksi diri, sudahkah dirinya memberikan penghargaan yang sepantasnya pada seorang guru yang demikian berjasa dalam mengajar dan mendidiknya? Sudahkah ia mengabdi dan menghormati guru sebagaimana tokoh-tokoh besar yang ngéngér zaman dulu? Murid bisa menumbuhkan kesadaran bahwa, pada dasarnya, tidak ada seorang guru pun yang menghendaki muridnya gagal. Tidak ada seorang guru pun yang menghukum muridnya tanpa alasan yang jelas. Murid perlu meyakini bahwa di balik segala “hukuman” guru, pasti ada hikmahnya.

Beberapa waktu yang lalu, Lembaga Dakwah Islam Indonesia, salah satu ormas Islam besar di Indonesia mencanangkan Gerakan Menghormati Guru sebagai salah satu prioritas programnya. Sebuah terobosan program menarik dan solutif, yang patut diapresiasi dan dipraktekkan. Bahkan, Presiden Jokowi pun tersentuh dengan program ini, dan berniat untuk menjadikannya sebagai gerakan nasional, mengingat potensi dampak positif yang dapat didapatkan. Jadi, ayo menghormati guru. Ayo kita implementasikan gerakan menghormati guru. Lakukan mulai dari kita dan lakukan mulai sekarang. Karena guru adalah sosok mulia. Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2016. –rikolazuardi-

Other articles you might like;

Check Also

Rahasia LDII Cetak Bibit Unggul Generasi Muda

Salah satu kunci keberhasilan suatu organisasi adalah tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *