Home >> Info >> Prestasi Remaja LDII Wakili Indonesia Olimpiade Bahasa Jerman

Prestasi Remaja LDII Wakili Indonesia Olimpiade Bahasa Jerman

Abdullah-Malik-Ibrahim-ldii-bandungAbdullah Malik Ibrahim warga LDII Bandung telah mengharumkan nama Indonesia dalam ajang Olimpiade Bahasa Jerman Internasional di Dresden Jerman.

Beberapa waktu lalu di Dresden Jerman digelar sebuah even bersekala internasional yaitu Internationale Deutscholympiade. Ajang ini tidak ada hubungannya dengan pesta olahraga Olimpiade di Cina. Dalam Olimpiade ini bukan cabang olahraga yang dipertandingkan. Melainkan kemampuan berbahasa Jerman lah yang diuji.

119 remaja dari 41 negara berkumpul selama 10 hari di kota Dresden Jerman untuk memperebutkan gelar juara Olimpiade Bahasa Jerman se-Dunia. Indonesia diwakilkan oleh tiga pelajar SMA. Mereka sebelumnya telah lolos seleksi tingkat nasional bulan Maret lalu. Ketiga siswa itu yaitu Abdullah Malik Ibrahim, Muhammad Shoufie Ukhtary dan Achmad Nurochim Mereka  bertiga bisa dengan lancar memperkenalkan diri mereka dalam bahasa Jerman. Bagi Malik dan Achmad ini bukanlah pertama kalinya mereka menginjak benua Eropa. Malik pernah tinggal di kota Karlsruhe di Jerman, sementara Achmad pernah menetap di Austria selama dua tahun. Ketiganya bersaing dengan lebih dari 100 pelajar dari seluruh dunia untuk memenangkan beasiswa kursus bahasa Jerman di Goethe Institut di Jerman pada musim panas tahun depan.

Abdullah Malik Ibrahim adalah putra dari Bambang Jasnanto dan Dewi Widaningrum yang lahir di Bandung pada tanggal 17 Oktober 1991. Kesehariannya Malik yang tinggal di Jl. Sederhana II no. 2B, 40161 Bandung ini juga aktif mengikuti pengajian di PAC LDII Sukajadi Bandung.

Bukan Hal yang Mudah

Bukanlah hal yang mudah bagi ketiga pelajar ini. Ketua proyek Olimpiade Bahasa Jerman se-Dunia, Gabriele Stiller-Kern menilai pelajar asal Eropa diuntungkan dalam lomba ini.

“Jelas sekali para remaja dari Eropa Tengah dan Timur. Karena disana sudah merupakan tradisi untuk belajar bahasa Jerman. Para remaja sudah sejak awal memiliki kesempatan untuk belajar bahasa Jerman di sekolah. Di beberapa negara bahkan siaran televisi Jerman bisa ditangkap. Ini tentu juga sangat membantu. Ini bisa dilihat kompetisi di tingkat atas didominasi oleh remaja asal Eropa Tengah dan Timur.”

Tetapi Malik, Shoufie dan Ahmad tidak gentar menghadapi persaingan. Di hari kami mengikuti kegiatan mereka, adalah hari ujian proyek tertulis. Mereka harus menyelesaikan semacam koran dinding yang temanya telah ditentukan sebelumnya. Pengumpulan materi telah dilakukan beberapa hari sebelumnya. Jadi hari itu mereka punya waktu sekitar 2 jam untuk menyelesaikan koran dinding masing-masing. Stiller-Kern menggelengkan kepala melihat kegigihan para peserta.

“Kemarin kita baru sampai ke asrama sangat malam. Karena itu kami bilang bahwa hari ini program baru dimulai jam 11. Tetapi jam setengah sembilan saya sudah melihat beberapa diantara mereka disini dan mengerjakan proyek koran dinding yang harus dikumpulkan hari ini.”

Bagaimana dengan ketiga peserta kita? Malik tampak sibuk membalik-balik halaman majalah.

“Lagi nyari-nyari gambar untuk artikel. Tema artikelnya Menschen in der Stadt.”
Menschen in der Stadt atau orang-orang di kota. Malik memilih untuk menulis pengamatannya tentang orang-orang lanjut usia di Jerman. Lain lagi dengan tema pilihan Achmad yang sibuk mencari informasi melalui internet.

“Tentang bunga-bunga Kamille, Alpenveilchen. Sekarang udah selesai dan mau ke atas.”
Achmad dan Shoufie berlomba di tingkat dasar. Ruangan mereka berada di lantai 3 Goethe Institut Dresden. Sementara Malik peserta lomba tingkat menengah. Mereka bertiga terpisah di tiga ruangan yang berbeda.

Setiap ruangan memiliki seorang pengawas. Frauke Van der Werf dari Goethe Institut salah seorang diantaranya. Ia tampak antusias mengamati keseriusan para pelajar dalam berkarya. Padahal menurutnya, mereka tidak selalu begitu.

“Mereka butuh waktu yang cukup lama, hingga mereka sadar bahwa kami mengharapkan suatu pencapaian dari mereka. Jadi bahwa ini bukan hanya liburan saja. Tetapi sekarang mereka seperti tidak bisa berhenti lagi. Mereka benar-benar ingin menghasilkan sesuatu. Mereka ingin dihargai dan mengatakan, ‘saya bisa melakukan sesuatu dan saya ingin menunjukkan kepada semuanya’. Dan inilah yang kami inginkan.”

Jam dinding di Goethe Institut menunjukkan pukul 1 siang. Waktunya mengumpulkan koran dinding ke pengawas tiap-tiap ruangan. Malik sudah selesai 15 menit sebelumnya. Ia ingin bisa segera bertemu dengan ayahnya yang khusus datang ke Jerman untuk bisa menyaksikan anaknya berlomba.

Tetapi sebelumnya ia sempat mengeluhkan kesulitannya menyelesaikan tugas pertamanya.
“Naskahnya susah. Karena saya harus menulis dan mengumpulkan bahan. Saya lemah dalam menulis. Saya bisa berbicara cukup baik, tapi menulis saya belum begitu baik.”

Achmad dan Shoufie masih belum juga kelihatan batang hidungnya. Tak berapa lama kemudian malah ayah Malik, Bambang Jasnanto yang tampak. Ia menceritakan bahwa ia sampai merinding begitu tahun anaknya lolos seleksi tingkat nasional dan dikirim ke Jerman mewakili Indonesia. Karena itu ia juga sangat mendukung bahwa anaknya yang baru berusia 16 tahun harus belajar mandiri dan melakukan semuanya sendiri dari mulai berangkat hingga kesehariannya di Jerman.

“Sangat bagus. Bagi orang Eropa kan biasa. Saya juga senang anak-anak berangkat tanpa pendamping. Bertiga datang sendiri sambil bingung-bingung. Saya selalu bekali anak saya, bingung tanya! Dan Alhamdullillah sampai juga.”

Walau pun begitu ia mengaku berat baginya untuk tidak bisa bertemu Malik begitu lama. Ia hanya bisa mencuri-curi waktu beberapa menit untuk bisa berbicara dengan anaknya. Malik termasuk diantara peserta lomba yang mengeluhkan ‘Heimweh’ atau rindu kampung halaman. Ketua proyek Gabriele Stiller-Kern bercerita bahwa kadang ia harus berperan sebagai ibu bagi para peserta lomba.

“Beberapa kangen dengan orangtua mereka. Seorang remaja perempuan asal Mesir kangen dengan masakan asal negaranya. Tetapi para peserta benar-benar saling peduli. Saya melihat bagaimana mereka saling menghibur dan juga memberikan pelukan.”

Shoufie adalah peserta asal Indonesia kedua yang berhasil menyelesaikan koran dinding karyanya yang mengambil tema rumah. Ia sempat kaget dengan bentuk ujian seperti itu.
“Saya tidak tahu ujiannya seperti ini. Saya kira ya soal-soal kayak lesen, schreiben, hören. Ternyata enggak.”

Lesen, schreiben, hören. Membaca, menulis, mendengar. Sebenarnya membuat koran dinding ya bagian dari ujian membaca dan menulis. Selain itu, masih ada lomba presentasi kelompok untuk ujian lisannya. Rasa tidak puas juga terdengar dari Achmad yang akhirnya selesai juga. Ia sudah ditunggu dengan tidak sabar oleh Shoufie yang ingin segera makan siang bersama.
“Sebenarnya saya senang dengan hasil akhir ini. Tetapi seharusnya saya masih bisa lebih memberi warna pada koran dinding ini. Waktunya sedikit. Saya harus menyerahkannya sekarang.”

Waktu makan siang dimanfaatkan oleh para peserta untuk berinteraksi dengan peserta dari negara lain. Banyak kejadian-kejadian mengesankan yang sulit dilupakan oleh ketua proyek Stiller-Kern.
“Saya harus mengatakan, saya merasa terharu jika mengamati tingkah para remaja ini. Apa yang mereka saling ceritakan tentang negara asal mereka. Kebetulan saya ada, saat seorang anak laki-laki dari Eslandia berbicara dengan kelompok remaja dari Marokko dan negara-negara di Afrika. Ia menceritakan kepada mereka bahwa matahari jarang sekali bersinar di Eslandia. Mereka tampak terkejut dan tidak bisa membayangkannya.”

Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Tapi Malik, Achmad dan Shoufie masih harus berkonsentrasi penuh. Mereka sekarang harus mempersiapkan presentasi kelompok yang akan ditampilkan di hadapan juri dua hari kemudian. Kelompok Shoufie memilih untuk bermain teater. Tema yang mereka pilih ‘Ärmut’ atau kemiskinan.

Pemenang Olimpiade Bahasa Jerman se-Dunia telah diumumkan tanggal 2 Agustus. Sayangnya, Indonesia gagal meraih hadiah. Tetapi apa pun hasilnya, melihat ketiga remaja belasan tahun ini, bekerja, berdiskusi, berteman, dalam bahasa Jerman yang bukan merupakan bahasa asing yang mudah, adalah sudah merupakan keberhasilan yang luar biasa. Mereka telah hadir di Jerman sebagai yang terbaik dari Indonesia!

Other articles you might like;

Check Also

Fauzi Wafdolloh entrepreneur muda Bakso Empal Suwir Surabaya.

Entrepreneur Muda LDII: Bisnis Sukses Karena menolong Agama Allah

Siang itu, Depot Bakso yang berada di jalan Residen Sudirman tampak ramai, pembeli keluar masuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *