Home >> Dakwah Islam >> Menyambut Kemenangan Islam – Hari Raya Idul Fitri

Menyambut Kemenangan Islam – Hari Raya Idul Fitri

idul-fitriTiada terasa ibadah puasa ramadhan telah kita tempuh dengan berjalan aman, slamet, lancar, dan barokah. Dengan demikian, kita akan menyambut kemenangan besar, yakni pada Hari Raya ‘Iedul Fitri 1 Syawal tahun ini. Sebagaimana telah diketahui bahwa puasa itu adalah ibadah yang tersembunyi di dalam jiwa yang dilakukan guna menahan hawa nafsu dari segala keinginan. Pekerjaan menahan itu tidak diketahui seorang pun, selain Alloh Yang Maha Perkasa. Oleh karena itu, ibadah puasa sangat besar artinya serta mengandung rahasia dan hikmah yang tidak sedikit, dan berguna bagi pelakunya dan masyarakat umum.

Setidaknya ada ranah hikmah yang mampu disentuh oleh ibadah puasa kita. Seperti yang kita ketahui bahwa berkaitan dengan bulan Ramadlan Nabi pernah menyampaikan khotbah pada akhir bulan Sya’ban yang termaktub di dalam Hadits Ibnu Huzaimah yang berbunyi,“Wahai manusia!! Sesungguhnya bulan yang agung dan penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat lailatul qodar—yang nilainya—lebih baik daripada seribu bulan telah menaungi kalian. Sebuah bulan yang Alloh mewajibkan puasa pada siang harinya dan menjadikan sholat pada malam harinya sebagai amalan sunah. Ramadlan adalah bulan sabar, dan sabar itu balasannya adalah surga. Ia adalah bulan pertolongan dan pada saat itu rezeki orang iman bertambah. Barang siapa memberi buka kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala memerdekakan budak dan mendapat ampunan atas dosa-dosanya. Alloh memberikan pahala ini kepada orang yang memberi buka kepada orang yang berpuasa meskipun hanya seteguk air susu, sebutir kurma atau air minum. Barang siapa membuat kenyang kepada orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan Tuhannya akan memberi minum dari telaga-Ku—yakni minuman yang tidak akan merasa haus lagi sesudah meminumnya—sampai ia masuk surga, dan ia mendapatkan pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu. Bulan Ramadlan permulaannya adalah Rahmat, pertengahannya adalah Maghfirah/pengampunan, dan penghabisannya adalah Itqu Minannar/pembebasan dari neraka. Maka perbanyaklah dalam empat perkara, dua perkara yang kalian dapat membuat Tuhan kalian ridla dan dua perkara yang lain kalian tidak mampu memenuhinya. Dua perkara yang kalian dapat membuat Tuhan kalian ridla adalah kalimat penyaksian Laa Ilaaha Illaalloh dan kalmat istighfar. Dan dua perkara yang lain kalian tidak mampu memenuhinya adalah memohonlah kepada Alloh untuk masuk surga dan diselamatkan dari neraka”.

Telah menjadi tabiat orang iman bahwa dalam menyambut ibadah Ramadlan selalu bersemangat dalam beribadah untuk mengisi hari-hari selama puasa. Bahkan ada sahabat yang sempat mengirimkan layanan pesan singkat kepada saya, untuk lebih memotivasi kita untuk meningkatkan amal ibadah kita. Kalau tidak salah bunyinya demikian, “Selamat memasuki ‘BBM’ (Bulan Berkah dan Maghfirah, red) dalam suasana ‘PREMIUM’ (Prei Makan dan Minum, red), perbanyaklah isi ‘SOLAR’ (Sholat Lail dengan Rajin, red) dan ‘MINYAK TANAH’ (Memperbanyak Tadarus dan Tahan Amarah, red) dan jangan lupa isi ‘PULSA’ (Puasa Lebih Sabar atau Puasa Lebih Asyik, red). Ada cela dalam canda. Ada dusta dalam tawa. Jika tabiatku membuatmu luka, hanya maaf yang dapat kupinta. Ikhlaskan maafmu tuk peluk kalbuku menyambut bulan suci Ramadlan. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1429 H”.

Dengan demikian kita supaya selalu bersyukur kepada Alloh bahwa kita bisa nglembur melaksanakan ibadah puasa dalam sebulan Ramadlan. Kita dapat melaksanakan zakat fitrah, dapat mengkhatamkan Al-Qur’an dan dapat menempuh Lailatul Qodar. Kita dapat melaksanakan dzikir, ibadah siang-malam, i’tikaf, sholat tarawih, dan memetik bunga-bunga pahala yang disemaikan dan disebarkan oleh Alloh di padang doa Ramadlan tahun ini. Oleh sebab itulah, kita supaya berusaha meningkatkan amal ibadah kita masing-masing, terutama pada kesempatan hari raya nanti, untuk menyambut kemenangan besar setelah sebulan kita berjihad dan berperang melawan rasa dahaga dan getirnya lapar, apalagi lawan abadi kita yakni sang hawa nafsu.

Namun kita juga harus waspada dengan sabda Rasuululloh SAW, dalam Kitab Jami’u as-Shahih At-Tirmidzi, yang berwasiat tentang bulan Ramadlan, yakni, “Merugilah bagi orang—yang ketika Ramadlan datang sampai habis waktunya —tiada diampuni dosa-dosanya”. Sebuah sindiran keras bagi kita yang pada umumnya setiap akhir Ramadlan kita merayakan dan menyambut kemenangan besar dan di pihak lain ada yang gagal memenangkan pertarungan besar. Ibadah Ramadlan yang seharusnya dinikmati dan menghasilkan rahmat, pahala, maghfirah, ridla Alloh dan pembebasan dari api neraka, terkadang masih ada hamba Alloh yang terjebak dengan kiprah dan kegiatan yang bukan bersifat ibadah, namun justru yang bersifat festival dan seremonial. Semestinyalah setelah sebulan penuh kita menahan nafsu dan menjauhi larangan Alloh serta meningkatkan ketaqwaan, maka Alloh akan mensucikan diri dan bathin kita.

Sebagaimana diketahui bahwa asal ibadah itu ada tiga, yaitu: takut, harapan dan cinta. Tanda takut adalah meninggalkan segala hal yang diharamkan oleh Alloh. Tanda harapan adalah giat melaksanakan ibadah. Sedangkan tanda cinta adalah rindu dan tobat.

Tanda maksiyat juga ada tiga, yaitu: sombong, rakus dan dengki. Sombong itu tampak pada iblis ketika diperintah untuk bersujud, hingga ia dikutuk. Rakus itu tampak pada Adam ketika mendekati pohon larangan agar kekal di surga, tapi kenyataannya ia malah diusir. Dengki itu tampak pada Qabil yang membunuh saudaranya lalu ia dimasukkan ke dalam neraka.

Setiap orang wajib menjauhi segala perbuatan maksiyat serta bersungguh-sungguh dalam beribadah dan ikkhlas karena Alloh semata. Orang yang sibuk mencari kesalahan orang lain, orang yang merasa bangga terhadap dirinya sendiri dengan dicampuri dengan rasa sombong, dan orang yang riya’ dalam beramal maka ia menanam kebencian dan murka pada dirinya dan merusak apa yang telah ia bangun. Sedangkan orang yang berakhlaq mulia, orang yang ikhlas dalam beramal, dan orang yang tawadlu’ atau rendah hati maka akan menanamkan cinta di dalam hati dan mewariskan keselamatan dan kedudukan di langit.

Marilah kita mengembalikan diri kita pada kemenangan besar yang kita cita dan cintakan. Kita berlapar-lapar untuk berpuasa tentulah ingin mencapai insan yang taqwa dan tawadlu’. Ibadah yang ditempuh selama Ramadlan pastilah untuk meningkatkan taqorrub ilaahi robbi. Kita membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an adalah untuk semakin intens dalam memahami dan menghayati perintah dan larangan Alloh. Kalam ilahi—yang berciri par exellence itu—semestinya bukan hanya kita kaji di bulan Ramadlan semata, seyogyanya pula kita urai dan dalami pada sebelas bulan yang lain. Apalagi implementasinya, insya alloh memerlukan waktu yang lain selain bulan suci Ramadlan. Quo vadis Lebaran?

Akhirnya, kami mengucapkan Selamat Idul Fitri dan menyambut kemenangan besar setelah sebulan penuh dalam Ramadhan tahun ini kita berjuang melawan lapar, dahaga dan hawa nafsu kita masing-masing. Taqobballaahu Minna Waminkum.

Demikian Percikan Permenungan yang bertajuk Hikmah Ramadlan (#4) kali ini. Muga2 Alloh paring aman, slamet, lancar, dan barokah. Amiin.

Alhamdulillahi Jazaa Kumullohu Khoiron.

Wassalam.

AA_Im (Sufi Berjalan Di Atas Teknologi)

P.S.:

Riyoyo Gak nGoreng Kopi

Mejo Kosong Ngemut Driji

(nGoreng……Cak!!!)

Other articles you might like;

Check Also

hukum valentine day menurut islam

Hukum Valentine Days Menurut Islam

Saya seorang muslim apakah pantas ikut merayakan hari Valentine Days ?? Berikut ini beberapa penjelasan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *