Home >> Berita LDII Surabaya >> LDII-BNN, Berantas Narkoba Melalui Dakwah

LDII-BNN, Berantas Narkoba Melalui Dakwah

Belakangan Indonesia dinilai tengah berada diambang level darurat narkoba. Tak pandang siapapun, barang haram itu bisa masuk di lini manapun. Untuk itu peran serta organisasi kemasyarakatan berbasis agama dalam upaya pencegahan penggunaan narkoba perlu lebih dimaksimalkan. Menanggapi hal tersebut Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Surabaya bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surabaya menggelar Kegiatan “Seminar Green Dakwah dan Generasi Anti Narkoba” , Kamis (11/05).

Acara yang berlangsung di Aula Pondok Pesantren Sabilurrosyidin, Gayungan, Surabaya tersebut juga turut mengundang Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

“Kita di sini sebagai para orang tua harus selalu introspeksi diri, sudah sejauh mana menjaga anak-anak? Jangan dikira merasa anaknya sudah masuk di lingkungan yang bagus, kalangan berakhlak, sudah aman. Jangan salah, narkoba ini sudah bisa masuk ke segala kalangan,” tutur Risma saat memberikan sambutan.

Risma juga mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya karena dengan adanya acara-acara positif yang diselenggarakan LDII bisa menjadi salah satu cara untuk menghindarkan generasi muda dari bahaya narkoba.

Dalam acara itu hadir pula Kepala BNN Kota Surabaya AKBP Suparti. Ia berharap ke depannya LDII & BNN bisa bersinergi untuk melakukan beragam kegiatan dalam usaha pemberantasan narkoba. “Serangan narkoba ini begitu luas, begitu luar biasa. Dari himbauan yang ada, terdapat 52 jenis narkoba, sedangkan yang tertuang di UUD hanya 18 jenis /bentuk narkoba,” tegas Suparti.

Usai rangkaian sambutan, termasuk di dalamnya dari Ketua DPD LDII Surabaya, H. Akhmad Setiadi, S.Si , acara dilanjutkan pada bahasan pokok, salah satunya yakni tentang “Generasi Anti Narkoba” yang disampaikan dr. Singgih Widi Pratomo, SH, MH, dari BNNK Surabaya.

Menurut Singgih, dalam penanganan pemberantasan narkoba ini tidak bisa dilakukan instan, namun harus berkelanjutan. Berbekal pengetahuan tentang narkoba dan dampak buruk yang ditimbulkan pun ternyata tidak membuat seseorang rentan terhadap penyalahgunaan narkoba. Sekali saja mencoba, himbauan dalam bentuk apapun tidak ada yang bisa mengalahkan rasa candu terhadap obat perusak generasi bangsa tersebut.

Candu yang ditimbulkan narkoba ini layaknya seseorang yang kecanduan terhadap penggunaan gadget. Dan setelah menjadi pecandu sangat sulit untuk disembuhkan. Karenanya dalam hal narkoba tidak lagi mengusung istilah “lebih baik mencegah daripada mengobati” melainkan “lebih baik memberantas daripada mencegah”.

Lebih lanjut Singgih menyarankan, apabila menemukan keluarga, tetangga atau teman yang mengonsumsi narkoba jangan diam saja terlebih mengucilkan. Jika dikucilkan justru pecandu tersebut akan mencari teman, sehingga pengaruh penggunaan narkoba semakin luas. Masyarakat harus tanggap dan tahu apa yang harus dilakukan, jika menemukan langsung dibawa ke layanan kesehatan atau lembaga pemerintahan terdekat untuk ditindak lanjuti salah satunya dengan jalan rehabilitasi.

Paparan data pengguna narkoba juga ditampilkan dr. Singgih. Ia menjabarkan hasil survei penyalahgunaan narkoba di Jawa Timur pada tahun 2015, dari yang hanya mencoba pakai, hingga teratur pakai jumlahnya mencapai 572.919 dari total Populasi Penduduk Jatim (10-59 tahun) di tahun 2015 yakni 28.401.100 Jiwa. Jumlah yang cukup banyak sehingga bukan hal yang berlebihan jika disebut level darurat narkoba. [NRL]

 

 

Other articles you might like;

Check Also

Keputrian PC LDII Sukolilo Gelar Talkshow Istri Sholihah

Tim Keputrian Pengurus Cabang (PC) LDII Sukolilo menggelar Talkshow Menjadi Istri Sholihah, Senin (24/4) di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *