Home >> Berita Umum LDII >> Hobi Mengaji Di Masjid Tetap Jadi Juara Robot Nasional

Hobi Mengaji Di Masjid Tetap Jadi Juara Robot Nasional

juara-robotic-ldiiInilah kenyataan bahwa hobi mengaji di Masjid tidak membuat Prestasi jatuh, malahan pemuda ldii satu ini beberapa kali menjuarai perlombaan karena seringnya ikut pengajian di salah satu masjid binaan LDII Bogor.

Pemuda yang hebat, seperti kata Rasulullah, adalah pemuda yang menggantungkan hatinya di masjid. Setidaknya gemar ke masjid untuk menunaikan ibadah dan berkegiatan sosial. Nah, remaja LDII di Cibinong, selain beribadah juga memanfaatkan masjid untuk membentuk Club Robotic. Bagaimana kiprah mereka?

Bersama beberapa rekannya, Chairil Ramdhan di Gang Dukuh membentuk komunitas pengiat robotik. Memanfaatkan aula masjid, alumni Elektronika Industri, Politeknik Negeri Jakarta ini berbagi pengalamannya semasa aktif di tim robotik kampus. Setiap minggunya mereka rutin bertemu berbagi pengalaman dan teorik sekaligus praktik. Mereka juga rajin mengikuti berbagai perlombaan robotik nasional.

Meskipun terbilang baru akan tetapi Ramdhan bersama teman-temannya telah memiliki banyak prestasi. Mulai dari memenangi perlombaan robotik nasional untuk siswa SMA dan Mahasiswa, sampai dipercaya menangani proyek pembuatan robot untuk kepentingan industri. Ramdhan dan tim pernah dipercaya untuk membuat robot line follower pengantar baut dan mur di PT Panasonic pada tahun 2011 dan sempat menangani proyek Inspection Robot dan interface komputer dari elektrical inspection di Omron pada tahun 2013.

club-roboticTidak hanya mengajarkan robotik pada mahasiswa dan anak SMA atau SMK, Dukuh Robotic Club juga mengenalkannya pada anak-anak SD. Ramdhan berharap dengan dibentuknya tim robot tersebut dapat mengembangkan minat dan wawasan anak muda setempat. Selain itu dirinya juga berharap aktivitasnya di perkumpulannya ini dapat mecegah mereka melakukan kegiatan negatif.

Ketika ditanya tentang biaya mengadakan kegiatan ini, Ramdhan mengaku robotik tidak mahal sehingga tidak harus menguras dompetnya. “Berusaha mengunakan peralatan dan bahan yang murah dan mengakalinya menjadi sistem analog,” jawabnya saat diwawancara LDII News Network pada acara Bazar dan Expo Kreativitas Anak Muda (Bazoka), Bogor. Seperti membuat robot line follower yang umumnya bisa menelan biaya hingga ratusan ribu, mereka hanya membutuhkan Rp 50 ribuan untuk membuat satu unit. Mereka mengubah robot yang umumnya mengunakan mikrokontroler yang berharga mahal dengan rangkaian analog yang mereka desain. (Muhammad Bahrun Rohadi)

sumber : ldii.or.id

Other articles you might like;

Check Also

LDII Ikut Bersih-Bersih Pantai Nambangan

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Surabaya ikut berpartisipasi dalam Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *